Soto Putri, Soto Doa


Kelompok       : Hanifah Imtiyas  F. R                       210510170080                        Mankom B
                          Nabila Amelia                                   210510170073

Soto Putri, Soto Doa.

Picture by scribere4englishunpad.com

Siapa yang tidak pernah makan soto? Mungkin ada, tapi bukan kami. Tidak begitu terkenal di kalangan mahasiswa Universitas Padjadjaran mengenai soto lezat yang ada di dekat gerbang baru Universitas Padjadjaran, Soto Putri. Soto Putri ini jarang terdengar di kalangan mahasiswa Universitas Padjadjaran, namun sebenarnya Soto Putri ini menyajikan sebuah hidangan lezat yang hangat dengan harga yang sangat murah.
Warung sederhana yang menyajikan soto sebagai menu utamanya ini terletak di dekat gerbang baru Universitas Padjadjaran. Soto Putri ini awalnya didirikan oleh Ibu Mariem dan Bapak Fatur pada 22 November 2013. Soto Putri menyajikan berbagai macam soto, diantaranya ada soto ayam, soto daging, soto babat, dan soto sulung (jero-jeroan.) Warung sederhana yang menyajikan soto ini mengambil nama Soto Putri, yang terinspirasi dari nama putri tercinta mereka. Soto Putri memberi harga Rp11.000,- untuk satu porsinya, yang telah dilengkapi dengan nasi putih, kerupuk putih, dan juga air mineral gelas. Harga yang sangat murah bukan untuk sebuah hidangan lezat yang hangat?
Saat mewawancarai Ibu Mariem dan Bapak Fatur, kami sempat menanyakan alasan mengapa mereka memilih untuk menjual soto, dan kami mendapatkan banyak cerita.
Pertama-tama, Ibu Mariem dan Bapak Fatur mengajak kami untuk berkelana sebentar ke masa lalu mereka. Ibu Mariem dan Bapak Fatur merupakan sepasang sejoli berasal dari Madura, tapi mereka memilih untuk memulai kehidupan mereka di Balikpapan, Kalimantan Timur. Pada awalnya mereka menjajakan gado-gado di Balikpapan, dalam rangka membantu saudara Ibu Mariem. Namun, dengan adanya beberapa masalah personal antara Ibu Mariem dan saudaranya, Ibu Mariem dan Bapak Fatur memutuskan untuk pindah dan memulai kehidupan baru kembali di Jatinangor. Tidak ada alasan khusus mengapa mereka memilih Jatinangor sebagai tempat mereka menetap dan mengadu nasib. Namun, ada alasan tertentu mengapa mereka memilih depan gerbang Univesitas Padjadjaran. Salah satunya ada hubungannya dengan etnis mereka. Dalam budaya madura, ada aturan mengenai letak kios dan harga penjualannya. Contohnya, harga penjualan harus sama dan semua kios jaraknya minimal 500m kalau dipinggir jalan dan 1km kalau ada tokonya.
Hal yang menurut kami menarik adalah karakter Ibu Mariem dan Bapak Fatur yang sangat membumi dan ramah. Bisa dibilang kami cukup sering menyempatkan diri untuk pergi dan membeli Soto Putri kalau kelas pagi selesai lebih cepat. Dan hal yang paling menempel dikepala kami adalah, sepasang suami istri ini selalu mendoakan kami untuk selalu sukses dalam perkuliahan dan dalam segalanya. Dan dalam proses wawancara yang kami lakukan, ada satu perkataan yang melekat dikepala saya.
“Kalau ada kemauan, pasti bisa.”

Comments