Berekreasi Sembari Menjelajahi Ruang Waktu


Nurintan Farah Hidayati
210510170067
--


Bandung merupakan kota cinta, terdapat ungkapan terkenal bahwa tuhan menciptakan  Bumi Pasundan ketika tuhan sedang tersenyum. Liburan dengan keluarga membuat kita merasa segar untuk memulai aktivitas kembali di hari Senin. Kota Bandung terkenal dengan keberagaman surga yang berdiri di tengah kota, taman-taman indah dan terawat tempat manusia-manusia saling berkumpul dan bercengkerama. Jika ingin bertemu dengan masyarakat dari berbagai kalangan umur, kalian bisa berkunjung di taman lansia yang terdapat batu-batu, jika ingin menemani adik untuk bermain berbagai atraksi menyenangkan, kalian bisa juga berkunjung ke taman lalu lintas. Nah, untuk kalian yang ingin berlibur bersama keluarga, berlari-lari sampai berenang-renang bersama sambil mengetahui masa lalu di kota bandung,  Taman Sejarah menjadi destinasi yang tepat untuk dikunjungi!

Taman Sejarah terlihat dari sudut lain

Taman Sejarah terlihat dari depan

Taman sejarah ini terletak di Jl. Aceh No. 53, Babakan Ciamis, Sumur Bandung, Kota Bandung. Taman ini yang dahulunya hanya sebuah lapangan parkir, sukses disulap menjadi taman yang penuh akan nostalgia masa lalu. Taman Sejarah ini adalah taman pertama yang memang ditujukan untuk mengenang masa pemerintahan kota Bandung. Sampai-sampai meskipun sudah berada di kehidupan era modern, di taman ini, kita masih tetap bisa menjelajahi masa lalu dengan berjalan-jalan mengelilingi lampu dan lantai-lanai yang berisikan tulisan perjuangan di kota bandung, tembok-tembok relief yang bercerita tentang berdirinya kota bandung, hingga kaca-kaca yang berisi informasi tentang perjalanan walikota di Bandung.

Relief yang bercerita
Kaca yang berbicara

Ketika kami melakukan kunjungan di Taman Sejarah di sore itu, cuaca sedang hujan. Sehingga kami tidak bisa melihat keriangan masyarakat yang berkunjung ke Taman Sejarah ini. Namun kami menemukan seorang perawat taman, bernama Bapak Asep, yang memberikan gambaran mengenai informasi kegiatan pengunjung di Taman Sejarah ini. Menurut Pak Asep, pengunjung Taman Sejarah dikunjungi sampai lebih dari seratus orang tiap harinya, kebanyakan pengunjung adalah anak-anak. Biasanya anak-anak berkunjung dalam rangka karya wisata bersama guru-gurunya, hingga hanya berkunjung bersama orang tuanya. Anak-anak ke taman sejarah ini biasanya menggelar tikar di bawah pohon yang rindang sambil berjalan-jalan membaca informasi yang disajikan melewati relief, kaca, dan lampu sembari diarahkan oleh para guru. Hal ini dilakukan dengan harapan, generasi muda mengenal lebih dekat dengan tanah yang ia jajaki sedini mungkin. Ditambah terdapat kolam renang yang menjadi wahana menarik bagi anak-anak.
Taman Sejarah ini merupakan taman yang tidak memungut biaya apapun, dari parkir hingga perawatan taman, semuanya murni dibayar oleh pemerintah setempat. Sebagai akhir perbincangan, Pak Asep selaku perawat taman berkata bahwa ia menaruh harapan besar dengan anak-anak muda, “Jangan pernah melupakan sejarah,” tutupnya. Dari situ, perjalanan kami di Taman Sejarah ini cukup mengesankan karena mengetahui suatu hal yang baru, akhir kata, kami juga ucapkan terima kasih sudah membaca!





Comments