Koleksi Sang Kurator: Orbital Dago


Ditulis oleh Levine Ghiffary H
210510170075



Percayalah, bisa menikmati lukisan abstrak ditemani suara rintik hujan adalah salah satu dari ribuan hal yang patut kita syukuri selama hidup di dunia. Terlepas dari kemampuan kita untuk menginterpretasikan lukisan tersebut, tapi apa salahnya untuk sekedar mengapresiasi dan menikmati keindahan yang mungkin tertutup oleh goresan-goresan abstrak sang seniman?

Pepatah pernah mengatakan, ‘yang patah tumbuh, yang hilang berganti’. Itulah yang paling tepat untuk mendeskripsikan Kota Bandung dan galerinya saat ini. Sudah banyak pemilik galeri yang memutuskan untuk menutupnya—dengan alasan apapun yang mereka punya. Namun bukan berarti tidak ada penggantinya. Contohnya Orbital Dago.

 Dibandingkan dengan galeri-galeri terkenal yang sudah mempunyai nama di Bandung, mungkin Orbital Dago masih belum familiar di telinga masyarakat Bandung. Galeri yang terletak di Jalan Ranca Kendal Luhur no. 7 Dago ini memang baru dibuka pada tahun 2016, sehingga tahun ini menjadi tahun keduanya meneggerkan lukisan-lukisan para seniman dari berbagai daerah.
Pemiliknya adalah seorang kurator. Lukisan-lukisan yang dipajang rata-rata dari kawan seniman beliau. Kerap menampilkan lukisan dengan tema yang berbeda-beda. Tidak ada durasi pasti untuk satu tema. Semau beliau. Namun itulah yang menjadi daya tarik galeri ini.

Lukisan oleh Made Agung Saputra
Saat saya berkunjung pada Hari Minggu, 11 November, tema yang sedang diusung adalah Nu- Abstract. Lukisan yang bertengger manis di dalamnya adalah karya berbagai seniman di Bali diantaranya: Gede Mahendra Yasa (SIngaraja, 1967), Kemalezedine (Yogya 1978), Ketut Moniarta (Wanagiri 1981), Dewa Ngakan Ardana (Semarapura 1980), Agus Saputra (Payangan 1992), dan Putu Bonuz (Nusa Penida 1972).

Disana saya sempat mewawancarai salah satu pengunjung. Namanya Zahra, 21 tahun. Mengaku sebagai salah satu pengunjung setia Orbital Dago. Meski bukan berlatar belakang seni, Zahra mengaku senang menikmati keindahan lukisan-lukisan yang dipajang disini. Lebih memilih Orbital Dago dibandingkan galeri lain karena temanya yang sering berganti sehingga pengunjung tidak akan bosan. “Tapi sayang, aja, gitu sekarang banyak anak muda yang main ke galeri hanya sekedar berfoto, yang mana lukisannya malah menjadi objek pendukung dimana seharusnya menjadi objek utama.” Akunya. Ia juga menyayangkan makin hari makin sedikit anak muda yang tertarik untuk mengunjungi galeri. Namun ia senang karena kini sudah banyak galeri yang juga membuka kafe sehingga menarik lebih banyak pengunjung, orang-orang yang tadinya hanya niat makan siang, bisa sekaligus menikmati lukisan-lukisan yang dipamerkan.
 

Orbital Dago juga mempunyai kafe yang terletak persis di sebelah area lukisan. Menyajikan berbagai macam makanan yang cocok untuk dinikmati bersama keluarga. Belum lagi konsepnya yang semi-outdoor, makan siang ditemani angin sejuk Dago Atas adalah pilihan terbaik.

Bagi kalian yang bingung mau menghabiskan waktu weekend dimana, Orbital Dago bisa menjadi alternatif. Ayo coba berkunjung ke galeri!

Comments