Lawangkala: Tentang Ruang dan Waktu
Oleh
Amiralina Maharani Pemata Negoro
Seni bukan hanya mengenai goresan kanvas atau pahatan kayu, seni adalah perasaan. Kadang seni adalah cipratan tinta yang bertanggung jawab atas sebuah patah hati. Kadang seni, adalah pengingat, atas rasa syukur yang disimpan, agar terus dipanjatkan. Seni, adalah cerita yang dibawakan, saat mulut tak lagi bisa bercerita.
Pada hari selasa, 13 November 2018, saya dan kedua teman saya mengunjungi sebuah pameran seni di kawasan Bandung. Pameran seni tunggal yang digelar oleh seorang seniman bernama Sunaryo ini berjudul Lawangkala. Pak Sunaryo mengangkat tema Kehidupan, untuk mengingatkan kita bahwa kehidupan adalah sementara, dan kita harus dapat menghargai serta mensyukuri tiap detik yang terlewatkan. Konsep dari Lawangkala itu sendiri adalah tentang waktu dan kesementaraan, dimana Pak Sunaryo menggambarkan hidup sebagai Bubu, sebuah alat perangkap ikan tradisional terbuat dari bambu dengan bentuk tabung dan kerucut di tiap ujungnya. Pak Sunaryo sengaja menggunakan material- material alam seperti bambu, batang, untuk menggambarkan kehidupan yang sementara, sama seperti material yang lama- lama menjadi lapuk. Pada perangkap bubu, ikan yang telah masuk kedalamnya akan terperangkap dan tidak dapat kembali keluar, begitu pula kehidupan dan waktu, kita masuk dari satu sisi dan akan keluar di sisi lain tanpa bisa berjalan mundur. Lawang berarti pintu, sedangkan kala artinya waktu, disitulah alasan Pak Sunaryo membuat instalasi tersebut, untuk menjadikan pintu untuk kami kembali berjalan pada lini masa kehidupan, dari sejak kita lahir.
Selain instalasi, pak Sunaryo juga mengadakan pameran lukisan sebagai lanjutan dari karya tersebut. Teknik dalam pembuatannya adalah abstrak, dengan ciri jahit dan tempel, menggambarkan kondisi sosial dan ekonomi dimasa sekarang. Berangkat dari peristiwa di tahun 98, Pak Sunaryo beranggapan bahwa masyarakat belum melakukan perubahan yang signifikan, karena masih terus menerus berusaha mencari kesalahan yang ada pada masyarakat tanpa pernah menawarkan solusi. Dari lukisan itu, pak Sunaryo memberikan nilai “jahit dan tempel” sebagai penyelesaian masalah yang dapat ia tawarkan dalam membangun negeri. Warna yang digunakan juga identik dengan warna- warna seperti hitam, merah, dan putih gading.
Melalui sudut pandang Pak Sunaryo, kita belajar mengenai konsep waktu dan ruang, dan bagaimana terkadang kita lupa, bahwa waktu dan ruang selalu ada bersama kita. Pameran terakhir di tutup dengan sebuah lukisan mata yang diletakan diantara dua kaca, disana Pak Sunaryo meminta kita untuk berhenti sejenak dan memandang kembali, atas segala waktu yang telah kita lewati, dan berkaca untuk menanyakan pada diri, apa yang kita lihat?
Perjalanan seni kami ditemani oleh seorang tour guide bernama Mba Aam, dia sangat antusiasi dalam menjelaskan segala informasi, dan filosofi dibalik tiap/ tiap karya, serta pandangan pribadinya dalam memandang karya Pak Sunaryo.
Perjalanan waktu yang kita lalui lewat karya- karyanya, menyadarkan kita tentang arti kehidupan yang sementara, dan bagaimana kita harus dapat menghargai tiap- tiap bagian dari kehidupan tersebut. Meninggalkan tempat, saya merasa sangat tersentuh dan sangat mengapresiasi Pak Sunaryo, dengan seluruh ide dan cara pandangnya dalam memandang dunia dan bagaimana dia menungakannya menjadi sesuatu yang sangat bermakna, dan berharap, suatu hari nanti juga dapat menengok kebelakang, dan tersenyum melihat segala keputusan yang dibuat dalam hidup saya.
Amiralina M. P. Negoro
210510170065
Manajemen Komunikasi B 2017
Dasar Penulisan

Comments
Post a Comment