Dalam pameran itu sendiri terdapat tiga ruang pameran. Di ruangan pertama pengunjung diajak masuk kedalam instalasi arsitektur dari bambu-bambu yang ternyata dianalogikan dari bubu atau alat perangkap ikan tradisional yang terbuat dari bambu. Ketika ikan masuk kedalam perangkap tersebut maka ikan tersebut tidak dapat keluar lagi, dan seperti itulah kehidupan kita, akhirnya hanya akan ikut arus untuk terus menjalankan kehidupan kita.


Dalam instalasi ini terdapat tiga fase, pada
fase pertama pengunjung masuk kedalam fase awal kehidupan, arah jalan disini
masih lurus dan luas dengan pencahayaan terang. Inilah awal kehidupan, ketika
kita masih kecil, jalan hidup kita seakan masih mulus dan mudah. Setelah
berjalan sebentar suasana instalasi menjadi semakin redup, lembab, dan
berkelok-kelok, ternyata inilah fase kedua. Fase tersebut digambarkan dengan
jalan yang cukup berkelok-kelok dan suram, karena semakin dewasa perjalanan
hidup kita akan semakin rumit pula dan dalam fase ini terdapat seperti ruang
untuk merenung sejenak dimana terdapat satu spot ruang yang menggambarkan bubu
secara keseluruhan, dibawah nya diberikan video
mapping air sungai dengan ditemani suara-suara air dan sedikit alunan lagu
tradisional . Setelah itu kita akan berada pada fase ketiga dimana kita
seakan-akan terlahir kembali, di fase ini ruangan kembali cerah dan luas dengan
potongan bambu-bambu yang menjuntai mengarah keluar, sehingga dapat dikatakan
ketiga fase tersebut menggambarkan kehidupan kita.
Salah
satu pekerja disana bernama Aam mengatakan “Lawangkala ini seperti path of life. Pak Sunaryo ingin
mengingatkan kita kembali soal kehidupan. Pak Sunaryo berpikir kalau kita sudah
beranjak dewasa, kita akan sering kilas balik mengenai kehidupan kita
sebelumnya. Dan hal tersebut dituangkan dalam pamerannya kali ini” selain itu
ia mengutarakan mengapa pak Sunaryo banyak menggunakan material alam terutama
pada instalasi pertama ini, “kenapa menggunakan material alam, karena alam kan
material yang tidak awet dan permanen sehingga menunjang fase kesementaraan
itu” tuturnya.
Pada ruangan kedua, pengunjung akan diperlihatkan lukisan-lukisan pak Sunaryo. Lukisan ini dapat dikatakan lanjutan dari karya awal nya pada tahun 1998 silam yang menggunakan teknik mengikat dan menutup. Pak Sunaryo menggunakan teknik tersebut karena menyesuaikan kegelisahan beliau dengan kondisi sosial politik saat itu. 20 tahun berlangsung, pada pameran kali ini beliau menggunakan teknik menjahit dan menempel. Beliau melihat belum ada perubahan siginifikan yang berarti sampai saat ini karena kondisi sosial politik saat ini masih saja membahas kekurangan-kekurangan yang terjadi pada tahun 1998 tanpa memberikan solusi nya, sehingga teknik menjahit dan menempel pada pameran kali ini merupakan solusi yang ditawarkan oleh pak Sunaryo untuk permasalahan tersebut. Gaya lukisan nya abstrak, dan beliau banyak terinspirasi dari pemandangan-pemandangan alam sehingga banyak judul lukisan beliau seperti Langit, Senja kala, dan Menjaga Malam.Pada ruangan ketiga, pengunjung dianalogikan seperti berada pada akhir dari suatu kehidupan, dimana banyak terdapat kaca-kaca dan ada lukisan mata di tengah kaca untuk kita memandang lagi "siapa diri kita".
Kalau anda penasaran ingin merasakan
dan lebih memaknai perjalan kehidupan lewat karya-karya pak Sunaryo ini,
silahkan datang ke Jl. Bukit Pakar Timur No.100 Bandung yang buka setiap selasa
– minggu pukul 10.00 – 17.00. Untuk masuk nya dikenai biaya sebesar Rp.25.000,00 namun untuk anak berumur 6-12 tahun dan pelajar cukup dengan Rp.15.000,00 saja. Pameran “Lawangkala” ini diadakan dari tanggal
16 September sampai dengan 23 Desember 2018. Bagi anda para penikmat seni,
jangan sampai melewatkan pameran ini ya!
Ditulis oleh Athira Roosrania Q (210510170058)


Comments
Post a Comment