Konferensi Asia Afrika (KAA) merupakan sebuah konferensi
tingkat tinggi yang diadakan oleh negara-negara dari Asia dan Afrika.
Konferensi ini diadakan pada tanggal 18-24 April 1955 dan sering disebut
Konferensi Bandung karena memang diselenggarakan di Gedung Merdeka, Bandung.
Tujuan Konferensi Asia Afrika antara lain untuk mempererat solidaritas
negara-negara di Asia dan Afrika serta melawan kolonialisme barat
Namun
alangkah indahnya jika kita sebagai pemuda-pemudi di era millenial ini dapat
menyikapi segala sesuatu dengan arif dan tidak terbuai dengan romantisme masa
lalu yang membuat kita terlena untuk menatap masa depan, dan membuat kita hanya
melihat ke belakang. Nilai-nilai yang telah diciptakan, direncanakan, dan
dirumuskan oleh para pendiri bangsa kita di zaman dahulu sebaiknya kita
estafetkan dan kita implementasikan baik untuk masa kini ataupun masa yang akan
datang, nilai-nilai tersebut lah yang berusaha disampaikan oleh Museum Konferensi
Asia-Afrika. Cukup sudah berbicara mengenai kehebatan Ir.Soekarno selama
hidupnya dan apa yang telah ia ciptakan
untuk bangsa ini, cukup sudah berbicara tentang U Nu dari Burma (Kini Myanmar)
dengan ketenangan hati dan jiwa serta gagasannya yang dapat disampaikan dengan
cara damai, dan kita tidak pula harus terus menceritakan tentang keagungan
seorang Perdana Menteri Indonesia saat itu, yaitu Ali Sostroamidjodjo yang
sangat cerdik dan sangat cekatan dalam menyelenggarakan Konfrensi Asia-Afrika
yang tidak hanya fenomenal bagi bangsa Indonesia namun untuk dunia secara
global. Jika kita kembali berpikir menggunakan akal sehat manusia pada umumnya,
maka akan timbull pertanyaan, bagaimana mungkin sebuah negara yang belum genap
10 tahun merdeka sudah mampu menyelenggarakan konfrensi sebesar ini dan
membahas hal yang sangat krusial bagi peradaban manusia pada saat itu yaitu
hal-hal yang berkaitan dengan kolonialisme, kolonialisme, apartheid, dan perang dingin ? kemudian muncul pertanyaan kedua,
bagaimana lokasi yang belum 100% aman dari ancaman internal berani mengadakan
konfrensi seperti itu ? Karena seperti yang sudah kita ketahui bersama
bahwasanya 1955 ialah tahun dimana DI/TII (Darul Islam/ Tentara Islam
Indonesia) sedang gencar melakukan aksi-aksinya
dan gerakan ini berpusat di Jawa Barat.
Namun
dari berbagai macam sejarah dengan gagahnya, mereka semua tidak dapat dipahami
dan diestafetkan oleh generasi yang akan datang jika generasi penerusnya tidak
dapat memahami nilai yang terkandung dari setiap perjuangan, tumpah darah yang
dicurahkan oleh para pahlawan bangsa kita ini, hal yang senada diucapkan pula
oleh salah satu staff museum Konfrensi Asia-Afrika, yaitu Pa Desmond ketika
penulis melakukan sesi wawancara dengan beliau, beliau mengatakan bahwasanya spirit asia dan afrika di pemuda-pemudi
sudah mulai luntur dan itu merupakan kewajiban kita semua (masyarakat) untuk
membangun kembali spirit tersebut
agar dapat berkobar layaknya api ditengah malam, ia pun menjelaskan bagaimana
cara museum konfrensi asia-afrika dalam mengembangkan semangat 63 tahun yang
lalu, beliau menjelaskan bahwa cara paling efisien dan mudah adalah melalui
hal-hal yang menarik, yang bersifat hiburan dan disampiakan oleh orang-orang
yang dianggap memiliki kedekatan dengan orang yang mendengarnya. Beliau menjelaskan
hal tersbut melalui sebuah contoh apa yang selama ini museu konfrensi
asia-afrika telah lakukan, ialah mereka tidak segan untuk memberikan
fakta-fakta menarik yang mungkin tidak akan ditemukan di media-media
mainstream, dan hanya dapat ditemukan jika kalian mengunjungi langsung
tempatnya, kemudia museum konfrensi asia-afrika tidak ingin kalah bersaing
dengan generasi milenial saat ini,
akhirnya mereka pun membentuk suatu strategi dengan menggaet kader-kader dari
generasi milenial untuk menjadi
agen-agen pembangun semangat asia-afrika, mereka (para kader) dikenal dengan
sebutan Public Educator Club.
Setelah
mengetahui keberadaan Public Educator Club dari hasil interview saya dengan pa
Desmond, kemudian saya berniat untuk menemui salah seorang anggota dari Public
Educator Club, dan syukurnya saya dipertemukan dengan narasumber selang satu jam
setelah mewawancarai pa Desmond, menurut Oda, salah satu anggota PEC (Public
Educator Club), bahwasanya PEC merupakan bagian dari Sahabat Museum Konfrensi
Asia-Afrika, yang memiliki tugas untuk mengembangkan potensi anggotanya dan
menciptakan citra yang bersahabat dari museum konferenesi asia-afrika itu
tersendiri, menurutnya hal terpenting saat ini adalah menyampaikan nilai, bukan
hal-hal yang bersifat jadul saja.
Zuljuhdi Nasution
210510170063
Comments
Post a Comment